Aku hanyalah seorang manusia.
Seorang manusia yang tidak pernah berkata jujur.
Seorang manusia yang tidak berani.
Seorang manusia yang tidak memiliki pendirian.
Seorang manusia yang tidak pernah puas.
Seorang manusia yang egois.
Seorang manusia yang tidak berperilaku baik.
Seorang manusia yang tidak memiliki kelebihan.
Seorang mansuai yang hanya bisa menyesal.
Maaf
Aku hanyalah seorang manusia yang tidak sempurna.
Maaf
Aku hanyalah seorang manusia yang hanya bisa menangis.
16 Jan 2015
2015, I'll survive.
Pukul 11.56 PM aku memutuskan untuk sedikit melihat ke belakang. Tidak usah terlalu jauh, aku akan melihat satu langkah ke belakang di tahun 2014. Aku akan sedikit menulis tentang tahun 2014 milikku. Satu tahun yang memiliki banyak cerita bagiku.
Tahun 2014 ku dimulai dengan aku yang berada di rumah sakit karena sakit Hepatitis A. Aku keluar tepat tanggal 1 Januari 2014 karena tidak ingin melewati tahun baru terbaring terlalu lama. Tapi, aku tidak berpergian selama liburan karena kondisiku yang masih lemah dan harus beristirahat selama satu bulan penuh. Sejak saat itu, selama kuliah, aku membawa bekal yang disediakan bibi kosanku.
Semester 2 ku di ITB pun dimulai dengan 5 praktikum menanti selama satu semester. Dalam satu minggu, aku bisa menjalani 4 praktikum dengan setiap sabtu akan ada UTS dan praktikum yang menanti. Alhamdulillah, aku bisa membagi waktuku dengan cukup baik. Meskipun aku tidak sebaik teman-temanku yang lainnya. Kemampuanku hanyalah rata-rata.
Di tahun itu juga aku menjadi panitia pemilu raya ITB 2014. Pemilihan ketua KM-ITB dan MWA-WM ITB yang cukup menyita waktu tidurku. Aku sering pulang pukul 1 pagi hanya untuk datang dan mendengarkan alur berpikir calon ketua tsb. Banyak yang aku dapat dari hal itu, aku melihat berbagai macam karakteristik, cara berpikir, cara memandang seseorang mengenai satu hal. Ada yang berpikir sangat luas hingga memikirkan bagaimana misi calon tsb berguna untuk masyarakat sekitar ITB dan ada juga yang memikirkan dari lingkup kecil yaitu kampus. Ada juga yang hanya mempermasalahkan hal kecil dan terus berputar saja disana, hingga tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Banyak sekali.
Di tahun itu juga adalah tahun yang mungkin bagi beberapa orang yang tahu, tahun paling bodoh punyaku. Pertama kali aku melakukan hal bodoh itu, aku hanya ingin menghilangkan rasa berat yang aku alami dan tidak akan aku pungkiri bahwa aku ingin ada yang melarangku untuk melakukan semua itu. Ya, aku dilarang oleh beberapa temanku. Aku mengira bahwa satu kali aku mencoba, ya hilang sudah, tidak akan aku coba lagi. Tapi, aku salah. Perasaan itu datang lagi. Pikiran itu datang lagi. Beberapa kali aku lakukan, namun aku tidak cerita kepada teman-temanku.
IPku meningkat di semester 2 dan menurun di semester 3. Akademikku naik dan turun di tahun itu. Entahlah, aku lagi-lagi melakukan hal bodoh. Di tahun ini aku diterima di jurusan MRI, bukan di Teknik Kimia yang selama ini aku inginkan. Tidak ada penyesalan karena Allah sudah memberikan pertandanya agar kau lebih lapang dada.
Inilah inti dari than 2014ku. Tidak ada yang menarik bukan? Hal bodoh masih saja datang ke pikiranku. Aku sempat untuk menyerah dan membiarkan diriku untuk melakukan hal itu di tahun 2015. Tapi, aku sudah berjanji pada diriku dan Allah untuk tidak melakukan hal itu lagi. Aku akan terus melawan dan membiarkan perasaan itu datang.
Tulisan ini aku tulis bukan untuk siapa-siapa, hanya untuk diriku sendiri. Sebagai pengingat bahwa tahun 2014 berhasil dilewati dengan berbagai macam perasaan yang campur aduk bagaikan asinan yang baru saja tadi aku nikmati. Asam manis kehidupanmu baru akan dimulai.
Keep breathing, La.
28 Sep 2014
Pohon
Siang!!!!
Hari ini sebenarnya dan sesungguhnya mau ada kumpul angkatan sebelum osjur menyerang, tapi mau sempetin nulis sedikit :"" Ngga bisa ditahan banget nulis hal ini, karena yang mau ditulis super menyentuh hati lala. Jadi, ini belum tentu menyentuh hati bagi pembaca sekalian...
Sebelumnya, lala mau menceritakan sedikit sosok kesayangan sekaligus kembaran lala, yaitu Mami Gloria Hutajulu yang tercinta. Beliau ini benar-benar panutan lala banget dimanapun lala berada. Banyak hal yang lala pelajari dari seorang Ibu... Dari mulai perjuangan beliau yang dari tidak punya apa-apa hingga sekarang, segala keikhlasan hatinya, segala kesabarannya, dan lainnya. Huhuhu, jadi kangen banget :""(
Ada satu hal yang selalu aku pegang dari semua perbincangan santai di depan teras sama Ibu, "Carilah pasangan yang akan selalu bersama kamu susah dan senang, hargai dia selalu." Intinya sih, kalau tulang rusuk cocok, pasangan kita itu ngga akan membawa petaka bagi kita dan begitu juga sebaliknya, malah membawa kebaikan bagi kita.
Selama ini, lala belum pernah menemukan lawan jenis yang sepemikiran sama Mama, sampai satu waktu. Aku menemukannya (#nowplaying Naff - Akhirnya Ku Menemukanmu)
Parah sih... Sejujurnya, lala tersentuh banget. Tapi, rasanya orang ini "out of my league" bgt. Rasanya kayak menemukan seorang pangeran, tapi pangeran ini tidak mungkin memilih upik abu yang satu ini...
Terus, sekarang lala sedih mau nulis hal selanjutnya.. out of topic. Sebut saja laki-laki ini, Pohon. Ya Allah, lala sebenarnya ngga tau mau nulis apa tentang Pohon. Pohon ini mengingatkan lala sama Mama :"
Bukan salah lala kan tersentuh sama apa yang dimiliki Pohon? Lala cuma berdoa sama Allah yang terbaik dari semua rasa ini... Jika memang dia yang akan membawa kebaikan, maka jadikanlah. Jika memang bukan dia, maka aku akan bersabar dan menjadikan diriku lebih baik. Amin.
*masih merasa terharu bisa se-tersentuh itu*
Hari ini sebenarnya dan sesungguhnya mau ada kumpul angkatan sebelum osjur menyerang, tapi mau sempetin nulis sedikit :"" Ngga bisa ditahan banget nulis hal ini, karena yang mau ditulis super menyentuh hati lala. Jadi, ini belum tentu menyentuh hati bagi pembaca sekalian...
Sebelumnya, lala mau menceritakan sedikit sosok kesayangan sekaligus kembaran lala, yaitu Mami Gloria Hutajulu yang tercinta. Beliau ini benar-benar panutan lala banget dimanapun lala berada. Banyak hal yang lala pelajari dari seorang Ibu... Dari mulai perjuangan beliau yang dari tidak punya apa-apa hingga sekarang, segala keikhlasan hatinya, segala kesabarannya, dan lainnya. Huhuhu, jadi kangen banget :""(
Ada satu hal yang selalu aku pegang dari semua perbincangan santai di depan teras sama Ibu, "Carilah pasangan yang akan selalu bersama kamu susah dan senang, hargai dia selalu." Intinya sih, kalau tulang rusuk cocok, pasangan kita itu ngga akan membawa petaka bagi kita dan begitu juga sebaliknya, malah membawa kebaikan bagi kita.
Selama ini, lala belum pernah menemukan lawan jenis yang sepemikiran sama Mama, sampai satu waktu. Aku menemukannya (#nowplaying Naff - Akhirnya Ku Menemukanmu)
Parah sih... Sejujurnya, lala tersentuh banget. Tapi, rasanya orang ini "out of my league" bgt. Rasanya kayak menemukan seorang pangeran, tapi pangeran ini tidak mungkin memilih upik abu yang satu ini...
Terus, sekarang lala sedih mau nulis hal selanjutnya.. out of topic. Sebut saja laki-laki ini, Pohon. Ya Allah, lala sebenarnya ngga tau mau nulis apa tentang Pohon. Pohon ini mengingatkan lala sama Mama :"
Bukan salah lala kan tersentuh sama apa yang dimiliki Pohon? Lala cuma berdoa sama Allah yang terbaik dari semua rasa ini... Jika memang dia yang akan membawa kebaikan, maka jadikanlah. Jika memang bukan dia, maka aku akan bersabar dan menjadikan diriku lebih baik. Amin.
*masih merasa terharu bisa se-tersentuh itu*
25 Sep 2014
Mav curhat
Selamat pagi di 25 September 2014! :)
Lala lagi sibuk dengan dunia perkuliahan dan tanggung jawab lainnya nih... Rindu rumah :(
Mau curhat ya, kangen banget menjadikan blog ini tempat curhatan setelah melepas diary (Ya, dulu seneng banget nulis diary sampe tumpah-tumpah diary-nya)
Jadi...
Pernah ngerasain heavy-hearted? Heavy-hearted : feeling depressed or melancholy (ini menurut kamus via google). Kalo yang dirasain secara langsung, heavy-hearted itu rasanya berat, dada rasanya sesek dan seharian kamu cuma pengen selimutan meratapi hidup. Akhir-akhir ini sering banget ngerasain kayak gitu tiba-tiba. Wah, sebenernnya bukan akhir-akhir ini aja sih, udah dari beberapa bulan lalu...
Manusia normal selayaknya mungkin akan langsung cerita ke orang terdekat, "Aduh gue sedih nih tapi gak beralasan" dan kata-kata lainnya kalo lagi curhat. Tapi, ntah kenapa aku ngga terlalu sering melakukan hal itu lagi.
Alasan yang pertama adalah zona nyaman. Berteman itu pasti ada zona nyamannya. Kamu ngga mungkin bersahabat, menceritakan keluh kesah kalo kamu ngga nyaman sama orang itu. Ya, aku agak bermasalah di zona nyaman. Aku punya beberapa teman di perkuliahan ini yang aku percayakan dengan segala keluh kesahku setahun ke belakang. Untuk menghadapi setahun ini, aku tidak tahu... Aku merasa zona nyaman antara kami udah berbeda dan aku tidak lagi disana.
Pas aku ceritain ke salah satu teman, dia bilang, "Lo yang ngejauh apa gimana sih?" Sebenernya hal itu sudah aku sadari beberapa hari lalu. Aku bertanya-tanya, apakah mereka yang menjauh atau aku yang sebenarnya menjauh?
Akhirnya, aku selalu lebih memilih sendiri.
Alasan yang kedua adalah waktu. Pepatah bilang, hal yang paling berharga orang bisa berikan adalah waktu. Aku tidak mau membuang waktu orang lain dengan masalahku yang sering tidak jelas penyebabnya. Kata seseorang dengan pemikiran yang aku kagumi, ini adalah perspektif yang salah.
Sebenarnya aku masih tidak tahu apakah perspektif ini benar-benar salah atau ternyata benar, yang pasti ini adalah perspektif yang tepat saat ini.
Setelah aku sadari, hal yang membuat aku memegang perspektif ini adalah satu kejadian. Satu hari aku merasa sedih dan kesal tak beralasan. Akhirnya, aku juga melakukan hal-hal yang menyebalkan dan mengeluhkan hal-hal yang tidak penting. Ya, lingkunganku jadi negatif. Sekilas aku melihat wajah temanku dan sepertinya dia udah males. Ya, dia males mendengar semua yg aku keluhkan. Dari hal ini aku sadar, aku tidak mau membuang waktu orang lain dengan masalah emosiku... Waktu yang mereka berikan padaku seperti tidak memberikan manfaat bagi mereka juga dan aku tidak mau membuang waktu mereka yang bermanfaat itu...
*merenung*
Aku harus berbuat apa?
Lala lagi sibuk dengan dunia perkuliahan dan tanggung jawab lainnya nih... Rindu rumah :(
Mau curhat ya, kangen banget menjadikan blog ini tempat curhatan setelah melepas diary (Ya, dulu seneng banget nulis diary sampe tumpah-tumpah diary-nya)
Jadi...
Pernah ngerasain heavy-hearted? Heavy-hearted : feeling depressed or melancholy (ini menurut kamus via google). Kalo yang dirasain secara langsung, heavy-hearted itu rasanya berat, dada rasanya sesek dan seharian kamu cuma pengen selimutan meratapi hidup. Akhir-akhir ini sering banget ngerasain kayak gitu tiba-tiba. Wah, sebenernnya bukan akhir-akhir ini aja sih, udah dari beberapa bulan lalu...
Manusia normal selayaknya mungkin akan langsung cerita ke orang terdekat, "Aduh gue sedih nih tapi gak beralasan" dan kata-kata lainnya kalo lagi curhat. Tapi, ntah kenapa aku ngga terlalu sering melakukan hal itu lagi.
Alasan yang pertama adalah zona nyaman. Berteman itu pasti ada zona nyamannya. Kamu ngga mungkin bersahabat, menceritakan keluh kesah kalo kamu ngga nyaman sama orang itu. Ya, aku agak bermasalah di zona nyaman. Aku punya beberapa teman di perkuliahan ini yang aku percayakan dengan segala keluh kesahku setahun ke belakang. Untuk menghadapi setahun ini, aku tidak tahu... Aku merasa zona nyaman antara kami udah berbeda dan aku tidak lagi disana.
Pas aku ceritain ke salah satu teman, dia bilang, "Lo yang ngejauh apa gimana sih?" Sebenernya hal itu sudah aku sadari beberapa hari lalu. Aku bertanya-tanya, apakah mereka yang menjauh atau aku yang sebenarnya menjauh?
Akhirnya, aku selalu lebih memilih sendiri.
Alasan yang kedua adalah waktu. Pepatah bilang, hal yang paling berharga orang bisa berikan adalah waktu. Aku tidak mau membuang waktu orang lain dengan masalahku yang sering tidak jelas penyebabnya. Kata seseorang dengan pemikiran yang aku kagumi, ini adalah perspektif yang salah.
Sebenarnya aku masih tidak tahu apakah perspektif ini benar-benar salah atau ternyata benar, yang pasti ini adalah perspektif yang tepat saat ini.
Setelah aku sadari, hal yang membuat aku memegang perspektif ini adalah satu kejadian. Satu hari aku merasa sedih dan kesal tak beralasan. Akhirnya, aku juga melakukan hal-hal yang menyebalkan dan mengeluhkan hal-hal yang tidak penting. Ya, lingkunganku jadi negatif. Sekilas aku melihat wajah temanku dan sepertinya dia udah males. Ya, dia males mendengar semua yg aku keluhkan. Dari hal ini aku sadar, aku tidak mau membuang waktu orang lain dengan masalah emosiku... Waktu yang mereka berikan padaku seperti tidak memberikan manfaat bagi mereka juga dan aku tidak mau membuang waktu mereka yang bermanfaat itu...
*merenung*
Aku harus berbuat apa?
27 Jul 2014
Mudik
Met pagi!!!!!
Pesan sponsor sedikit: lagi-lagi lupa password blog dan emailnya!!!! Duh, hebat yah lala. Ini ngepost via iPad... Setidaknya masih bisa nulis-nulis heheheh
Btw, aku lagi di perjalanan menuju pekalongan! Setelah sekian lama mudik ngga bermacet ria di jalan naik mobil, akhirnya naik mobil lagi. Yes, mepet abis baru berangkat h-2 lebaran. Ini udh 12 jam dam blm juga sampe di cirebon (atau skrg udah ya?)
Lebaran tahun ini mepet ulang tahun si mbah lagi, jd biasanya keluarga ayah ngumpul semua dari yg kenal sampe yg ngga pernah ketemu atau ketemunya cuma sekilas, "oh ini anaknya bpk riyanto ya?". Done!
Sebenernya mau ngepost foto posisi tidur paling lucu di mobil sama winean, tapi gelap bgt jadinya ngga bisa difoto. Kalo dideskripsi aja gmn?
Jadi, aku naik mobil innova dgn 1 koper besar dan 2 koper kecil. Kursi paling belakang agak dimajuin jadinya kalo duduk tegak bgt. Sampe sini kebayang bgt lah ya, lanjut aja. Di kursi belakang itu jatahnya aku sama wini. Karena capek bgt duduk tegak, akhirnya kita memutuskam untuk tiduran! Posisi aku diantara kursi tengah dan kursi belakang (ya batas buat duduk, tau lah ya). Terus wini di sebelahnya dgn posisi beda 180derajat. Jd intinya, aku masuk ke lubang, do di kursi :( kasian yah aku, tapi yg penting pantat selamat....
Sekian yah. Ini post iseng karena bosen macet.
Mohon maaf lahir batin!!!
Salam,
Nurulhuda Fadhilah
nb: malu bertanya, sesat di jalan. Ayo ditanya!
27 Jun 2014
Hari ini.
Selamat jam 9 malam!
Nurulhuda sudah di Jakarta lagi! Besok hari pertama puasa nih, selamat menunaikan ibadah puasa ya teman-teman. Makan dan minum boleh ditahan, tapi cinta jangan :) Semoga barokah puasa sebulan ke depan!
Jadi, tulisan malam hari ini buat mengisi kekosongan. Pikiran udah 'gatel' mau nulis hal-hal tidak penting di path dan line. Maafkan.
Tiba-tiba kepikiran buat cek mental. Kayak semacam ke psikolog soalnya pengen tahu sebenernya pikiran dan perasaan yang lagi dialamin sekarang tuh sehat ngga sih. Contohnya, sedih yang terlalu berlebihan atau pikiran yang rasanya membebani. Hal-hal yang bikin capek fisik tapi bukan dari fisik, tapi dari perasaan yang terlalu dibuat beban. Kalau aku curhat sama ibu, dia selalu bilang, "Yaudah, ngga usah dipikirin." Well, it's easy to say.
Tapi, kalau misalnya kalau aku ke psikolog, secara tidak langsung aku sadar kalau aku belum mengenal diri aku secara seutuhnya. Aku belum tahu kekurangan dan kelebihan aku. Tapi, kenyataannya itu benar. Aku masih belum tahu kekurangan fatal aku apa dan aku harus apa dengan itu.
Ohiya, kemarin ketika aku ke Bandung, ada satu temen aku yang bilang gini, "Lala kelamaan di Jakarta deh jadi terlalu serius". Tiba-tiba aku tersadar. Kayaknya aku mulai menarik diriku dari peradaban lagi. Terlalu banyak me-time. Tapi, teman-teman dekat aku memang pada kenyatannya lagi memiliki kesibukan yang berbeda dengan aku. Jadi, aku harus menghabiskan waktu yang aku punya sendiri, kan? Lagipula disaat kayak gini, aku bahkan ngga akan ngerti mereka ngomong tentang apa. Kebetulan kegiatan mereka memang kegiatan yang aku ingin ikuti, tapi sayang bukan tempatku sepertinya.
Sedikit tentang apa yang ada di pikiran aku. Pernah ngga kalian terpikirkan lingkaran kecil yang kalian punya lama-lama akan semakin kecil tanpa kalian di dalamnya? Aku sering banget kepikiran hal kayak gitu. Ntah aku melakukan apa, terkadang skenario tidak tepat itu benar-benar terjadi. Mungkin ngga sih karena aku terlalu banyak memikirkan skenario itu sehingga aku yang bikin skenario itu beneran jadi realita?
Kadang aku terlalu berlebihan dalam menyalahkan diriku sendiri. Kadang kalau aku berpikir, ingin rasanya aku menjadi orang yang hidup tanpa diketahui banyak orang. Hidup dengan tenang dalam kesendirian. Mungkin aku tidak akan banyak menyalahkan diri sendiri. Tapi, aku tidak mau. Aku ingin mengalami banyak pengalaman yang mungkin akan mengurangi hal-hal negatif yang ada di dalam diri. Aku mau banyak belajar dari mereka yang menginspirasi aku.
Aku berharap dengan menulis apapun yang ada di pikiran dan perasaan aku akan membawa aku ke arah yang lebih baik. Aku lebih tahu kekurangan aku dan bisa memperbaikinya dengan apa yang aku punya dan aku terima. Semoga aku tidak akan semakin jatuh ke dalam satu jurang dan tidak akan jatuh lagi ke jurang yang sama.
Seseorang yang ingin lebih baik,
Nurulhuda
Nb: jangan bingung-bingung. mending tanya!
Nurulhuda sudah di Jakarta lagi! Besok hari pertama puasa nih, selamat menunaikan ibadah puasa ya teman-teman. Makan dan minum boleh ditahan, tapi cinta jangan :) Semoga barokah puasa sebulan ke depan!
Jadi, tulisan malam hari ini buat mengisi kekosongan. Pikiran udah 'gatel' mau nulis hal-hal tidak penting di path dan line. Maafkan.
Tiba-tiba kepikiran buat cek mental. Kayak semacam ke psikolog soalnya pengen tahu sebenernya pikiran dan perasaan yang lagi dialamin sekarang tuh sehat ngga sih. Contohnya, sedih yang terlalu berlebihan atau pikiran yang rasanya membebani. Hal-hal yang bikin capek fisik tapi bukan dari fisik, tapi dari perasaan yang terlalu dibuat beban. Kalau aku curhat sama ibu, dia selalu bilang, "Yaudah, ngga usah dipikirin." Well, it's easy to say.
Tapi, kalau misalnya kalau aku ke psikolog, secara tidak langsung aku sadar kalau aku belum mengenal diri aku secara seutuhnya. Aku belum tahu kekurangan dan kelebihan aku. Tapi, kenyataannya itu benar. Aku masih belum tahu kekurangan fatal aku apa dan aku harus apa dengan itu.
Ohiya, kemarin ketika aku ke Bandung, ada satu temen aku yang bilang gini, "Lala kelamaan di Jakarta deh jadi terlalu serius". Tiba-tiba aku tersadar. Kayaknya aku mulai menarik diriku dari peradaban lagi. Terlalu banyak me-time. Tapi, teman-teman dekat aku memang pada kenyatannya lagi memiliki kesibukan yang berbeda dengan aku. Jadi, aku harus menghabiskan waktu yang aku punya sendiri, kan? Lagipula disaat kayak gini, aku bahkan ngga akan ngerti mereka ngomong tentang apa. Kebetulan kegiatan mereka memang kegiatan yang aku ingin ikuti, tapi sayang bukan tempatku sepertinya.
Sedikit tentang apa yang ada di pikiran aku. Pernah ngga kalian terpikirkan lingkaran kecil yang kalian punya lama-lama akan semakin kecil tanpa kalian di dalamnya? Aku sering banget kepikiran hal kayak gitu. Ntah aku melakukan apa, terkadang skenario tidak tepat itu benar-benar terjadi. Mungkin ngga sih karena aku terlalu banyak memikirkan skenario itu sehingga aku yang bikin skenario itu beneran jadi realita?
Kadang aku terlalu berlebihan dalam menyalahkan diriku sendiri. Kadang kalau aku berpikir, ingin rasanya aku menjadi orang yang hidup tanpa diketahui banyak orang. Hidup dengan tenang dalam kesendirian. Mungkin aku tidak akan banyak menyalahkan diri sendiri. Tapi, aku tidak mau. Aku ingin mengalami banyak pengalaman yang mungkin akan mengurangi hal-hal negatif yang ada di dalam diri. Aku mau banyak belajar dari mereka yang menginspirasi aku.
Aku berharap dengan menulis apapun yang ada di pikiran dan perasaan aku akan membawa aku ke arah yang lebih baik. Aku lebih tahu kekurangan aku dan bisa memperbaikinya dengan apa yang aku punya dan aku terima. Semoga aku tidak akan semakin jatuh ke dalam satu jurang dan tidak akan jatuh lagi ke jurang yang sama.
Seseorang yang ingin lebih baik,
Nurulhuda
Nb: jangan bingung-bingung. mending tanya!
24 Jun 2014
Catatan di hari ke-23 di bulan Juni
Halo!
Mau bikin sedikit catatan harian untuk hari senin nih. Walaupun ngga banyak hal yang menarik tapi mudah-mudahan aku ngedapetin sesuatu di hari senin ini.
Jadi, di hari senin ini ada kumpul untuk kolosal sebuah acara di ITB yaitu OSKM. Karena aku masih di Jakarta, jadi pagi tadi aku naik travel jam 9.30 dengan perkiraan sampe jam 12 paling telat. Tapi, ternyata sampe Bandung jam 1 dan akhirnya buru-buru untuk mandi dan siap-siap ke kampus. Kenapa mandi? Ya, sebelum naik travel, aku kesiangan dan hanya cuci muka, sikat gigi dan cuci badan. Jadi belum keramas dan rambut lepek.
Pas kumpul ini, ternyata di bidang manajemen acara, cukup banyak wajah-wajah familiar, dari mulai kakaknya maupun temen yang satu divisi. Satu dari kakak yang paling familiar adalah kak dika, planologi 2012. Kenal waktu pemira dan cukup asik diajak diskusi hehehe.
Ntah kenapa aku merasa divisi non lapangan aku ini belum terasa sesibuk divisi yang nantinya akan berada di lapangan. Ya, karena kolosal lebih ke mengonsepkan acara dan akan aktif ketika acaranya. Kalo diibaratkan oleh kakak-kakaknya, divisi non lapangan sebagai manajer khususnya bidang manajemen acara.
Karena hari ini aku tidak terlalu sibuk, aku jadi ngga tau harus melakukan apa. Setelah kumpul, balik ke kosan, tidur sebentar, makan indomie terus pergi sama gabby ke kosan jovita. Niatnya hari ini mau ngasih surprise ke jovita dan niatnya terlaksana. Dengan membawa kue coklat berbentuk entah beruamh atau bayi dengan wajah yang ngeselin kayak jovita, surprise berjalan dengan lancar hahaha.
Sebenernya sih, hari ini sama seperti hari-hari biasa. Gak ada yang spesial banget tapi rasanya dapet sesuatu sih. Jadi sedikit sadar sama apa yang diinginin dan yang dibutuhin. Tadinya sempet mau divisi lapangan yang sibuk banget dari sekarang, tapi ternyata keluarga di rumah lebih membutuhkan keberadaan aku, makanya ditempatkan di divisi yang mengizinkan aku untuk lebih cepat ketemu orang-orang di rumah.
Terakhir nih, kemarin aku baca tulisan-tulisan lama terus menemukan tulisan yg isinya kata-kata bagus gitu, lagi mencari momen dan inspirasi yg tepat buat ngembangin kata-kata itu menjadi satu tulisan yang mudah-mudahan menginspirasi.
Salam,
Nurulhuda Fadhilah.
nb: malu bertanya, sesat di jalan. Ayo ditanya!
Langganan:
Komentar (Atom)