Selamat pagi di 25 September 2014! :)
Lala lagi sibuk dengan dunia perkuliahan dan tanggung jawab lainnya nih... Rindu rumah :(
Mau curhat ya, kangen banget menjadikan blog ini tempat curhatan setelah melepas diary (Ya, dulu seneng banget nulis diary sampe tumpah-tumpah diary-nya)
Jadi...
Pernah ngerasain heavy-hearted? Heavy-hearted : feeling depressed or melancholy (ini menurut kamus via google). Kalo yang dirasain secara langsung, heavy-hearted itu rasanya berat, dada rasanya sesek dan seharian kamu cuma pengen selimutan meratapi hidup. Akhir-akhir ini sering banget ngerasain kayak gitu tiba-tiba. Wah, sebenernnya bukan akhir-akhir ini aja sih, udah dari beberapa bulan lalu...
Manusia normal selayaknya mungkin akan langsung cerita ke orang terdekat, "Aduh gue sedih nih tapi gak beralasan" dan kata-kata lainnya kalo lagi curhat. Tapi, ntah kenapa aku ngga terlalu sering melakukan hal itu lagi.
Alasan yang pertama adalah zona nyaman. Berteman itu pasti ada zona nyamannya. Kamu ngga mungkin bersahabat, menceritakan keluh kesah kalo kamu ngga nyaman sama orang itu. Ya, aku agak bermasalah di zona nyaman. Aku punya beberapa teman di perkuliahan ini yang aku percayakan dengan segala keluh kesahku setahun ke belakang. Untuk menghadapi setahun ini, aku tidak tahu... Aku merasa zona nyaman antara kami udah berbeda dan aku tidak lagi disana.
Pas aku ceritain ke salah satu teman, dia bilang, "Lo yang ngejauh apa gimana sih?" Sebenernya hal itu sudah aku sadari beberapa hari lalu. Aku bertanya-tanya, apakah mereka yang menjauh atau aku yang sebenarnya menjauh?
Akhirnya, aku selalu lebih memilih sendiri.
Alasan yang kedua adalah waktu. Pepatah bilang, hal yang paling berharga orang bisa berikan adalah waktu. Aku tidak mau membuang waktu orang lain dengan masalahku yang sering tidak jelas penyebabnya. Kata seseorang dengan pemikiran yang aku kagumi, ini adalah perspektif yang salah.
Sebenarnya aku masih tidak tahu apakah perspektif ini benar-benar salah atau ternyata benar, yang pasti ini adalah perspektif yang tepat saat ini.
Setelah aku sadari, hal yang membuat aku memegang perspektif ini adalah satu kejadian. Satu hari aku merasa sedih dan kesal tak beralasan. Akhirnya, aku juga melakukan hal-hal yang menyebalkan dan mengeluhkan hal-hal yang tidak penting. Ya, lingkunganku jadi negatif. Sekilas aku melihat wajah temanku dan sepertinya dia udah males. Ya, dia males mendengar semua yg aku keluhkan. Dari hal ini aku sadar, aku tidak mau membuang waktu orang lain dengan masalah emosiku... Waktu yang mereka berikan padaku seperti tidak memberikan manfaat bagi mereka juga dan aku tidak mau membuang waktu mereka yang bermanfaat itu...
*merenung*
Aku harus berbuat apa?