Narsisisme adalah perasaan cinta terhadap diri sendiri atau biasa kita sebut dengan Narsis .
Istilah ini pertama kali digunakan dalam psikologi oleh Sigmund Freud dengan mengambil dari tokoh dalam mitos Yunani , yaitu Narcissus , yang dikutuk sehingga ia mencintai bayangannya sendiri di kolam .
Istilah dari Narsisisme sering kali berarti sikap sombong , kesombongan , egoisme atau simpelnya sikap egois .
Menurut suatu kelompok sosial , Narsisisme terkadang digunakan untuk mengartikan [1] membeda-bedakan elit atau tidaknya seseorang [2] ketidakpedulian akan kesusahan orang lain .
Di dalam kebudayaan Narsisisme , Christoper Lasch memerikan bahwa kebudayaan narsisisme adalah kebudayaan dimana liberalisme hanya eksis sejauh ia melayani konsumen masyrakat dan walaupun seni , sex dan agama kehilangan liberalisme mereka .
Pengobatan bagi Narsisisme adalah istilah keinginan oleh John Banja dalam bukunya "Medical Errors and Medical Narciccism".
Banja memerikan "Medical Narciccism" sebagai kebutuhan kesehatan profesional untuk menjaga penghargaan tersendiri dalam memimpin suatu musyawarah dari pengungkapan yang kacau menjadi sabar .
Dari buku psikologis yang ia tinjau , efek legal dan etis dari Mediacal Errors dan tingkat yang membutuhkan secara tetap menyatakan mereka bisa berkemampuan karena bisa melakukan hal lainnya walaupun luar bisa , profesional jatuh ke dalam perangkap Narsisisme .
Dia menyatakan bahwa ; "...most health professionals (in fact, most professionals of any ilk) work on cultivating a self that exudes authority, control, knowledge, competence and respectability. It’s the narcissist in us all—we dread appearing stupid or incompetent."